D i era digital yang terus berkembang pesat, keamanan siber seharusnya menjadi prioritas utama bagi setiap individu dan organisasi. Namun, sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh Comparitech mengungkap fakta yang cukup mencengangkan: jutaan orang di seluruh dunia masih menggunakan kombinasi angka sederhana yang mudah ditebak sebagai kata sandi utama mereka. Fenomena ‘kemalasan digital’ ini menempatkan miliaran akun pada risiko tinggi, membuka pintu lebar bagi para peretas untuk mengakses data pribadi dan sensitif. Bayangkan, meskipun teknologi enkripsi dan proteksi terus berinovasi, kebiasaan fundamental pengguna justru stagnan, bahkan cenderung regresif.
Artikel ini hadir sebagai panduan komprehensif yang disusun berdasarkan analisis mendalam terhadap laporan Comparitech dan praktik terbaik keamanan siber global. Kami akan mengungkap daftar lengkap password paling mudah diretas di tahun 2025, menjelaskan mengapa kombinasi ini sangat berbahaya, serta membongkar berbagai modus operandi yang digunakan peretas untuk mengeksploitasi kata sandi lemah. Lebih dari sekadar daftar, Anda akan mendapatkan strategi praktis dan rekomendasi ahli untuk menciptakan, mengelola, dan melindungi password Anda secara optimal. Dari prinsip dasar hingga inovasi terkini seperti autentikasi dua faktor dan password manager, semua akan dibahas tuntas. Tujuan kami adalah membekali Anda dengan pengetahuan dan alat yang dibutuhkan untuk membangun benteng pertahanan digital yang kokoh, memastikan data dan privasi Anda tetap aman di tengah ancaman siber yang kian kompleks. Mari bersama-sama hentikan siklus password lemah dan tingkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan digital yang proaktif.
Fenomena “Kemalasan Digital”: Mengapa Password Paling Mudah Diretas Masih Merajalela?
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi keamanan siber, pertanyaan mendasar sering muncul: mengapa jutaan orang masih memilih untuk menggunakan password paling mudah diretas? Jawabannya terletak pada kombinasi kompleks antara psikologi manusia dan kurangnya edukasi yang memadai. Secara inheren, manusia cenderung mencari kenyamanan dan kemudahan. Mengingat banyak kata sandi yang kuat dan unik untuk berbagai akun terasa membebani, sehingga solusi instan seperti menggunakan “123456”, “password”, atau tanggal lahir menjadi pilihan yang menggiurkan. Ini adalah bentuk ‘kemalasan digital’ yang menjadi bumerang bagi keamanan individu.
Laporan terbaru dari Comparitech, sebuah situs riset dan ulasan teknologi global, adalah pengingat yang mencolok akan realitas ini. Tim peneliti menganalisis lebih dari dua miliar data kata sandi yang bocor dari berbagai forum pelanggaran data selama tahun 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa, meskipun ancaman siber terus meningkat dalam kecanggihan, kebiasaan pengguna dalam membuat password tetap stagnan. Angka-angka yang dipublikasikan dalam laporan tersebut bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari kerentanan kolektif yang berpotensi memicu bencana privasi dan finansial berskala besar. Paradox ini, di mana kita memiliki akses ke teknologi pelindung yang canggih namun gagal memanfaatkannya secara optimal, menjadi tantangan besar dalam lanskap keamanan digital.
Selain faktor kenyamanan, banyak pengguna masih meremehkan risiko yang menyertai penggunaan password lemah. Persepsi ‘tidak ada yang akan menargetkan saya’ seringkali mendominasi, padahal pada kenyataannya, peretas tidak memilih target secara personal. Mereka memanfaatkan perangkat lunak otomatis yang menyapu miliaran kombinasi kata sandi setiap hari, mencari celah termudah untuk masuk. Setiap akun, sekecil apa pun nilainya, bisa menjadi pintu gerbang menuju informasi yang lebih sensitif. Kurangnya pemahaman tentang modus operandi peretas dan konsekuensi kebocoran data memperparah situasi ini, menjadikan password paling mudah diretas sebagai ancaman laten yang mengintai siapa saja.
Edukasi adalah kunci untuk mengatasi masalah ini. Penting untuk terus-menerus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya praktik keamanan digital yang baik, mulai dari membuat password yang kuat hingga memahami cara kerja ancaman siber. Hanya dengan mengubah pola pikir dan kebiasaan, kita bisa berharap untuk melihat penurunan signifikan dalam prevalensi password lemah yang menjadi sasaran empuk peretas.
Daftar Password Paling Mudah Diretas di Tahun 2025: Studi Kasus dan Analisis
Laporan Comparitech memberikan gambaran yang jelas mengenai kombinasi kata sandi yang masih menjadi password paling mudah diretas di tahun 2025. Data yang dikumpulkan dari miliaran data yang bocor menunjukkan pola yang mengkhawatirkan: pengguna secara konsisten memilih kombinasi yang sangat prediktif dan mudah dipecahkan oleh algoritma peretasan. Pemahaman tentang daftar ini bukan hanya untuk kepuasan rasa ingin tahu, melainkan sebagai peringatan keras agar Anda segera memeriksa dan mengganti kata sandi yang mungkin termasuk di dalamnya. Berikut adalah 10 besar password yang paling sering digunakan, yang ironisnya juga merupakan yang paling rentan:
- 123456 – Digunakan sebanyak 7.618.192 kali. Ini adalah juara bertahan yang memalukan, menunjukkan kecenderungan kuat pengguna untuk memilih kombinasi berurutan yang paling dasar.
- 12345678 – Digunakan sebanyak 3.676.487 kali. Sedikit lebih panjang, namun tetap sangat mudah ditebak.
- 123456789 – Digunakan sebanyak 2.866.100 kali. Perpanjangan dari pola sebelumnya, juga tidak memberikan peningkatan keamanan yang berarti.
- admin – Digunakan sebanyak 1.987.808 kali. Kata sandi default ini adalah mimpi buruk keamanan, seringkali digunakan tanpa perubahan.
- 1234 – Digunakan sebanyak 1.771.335 kali. Kombinasi angka yang sangat singkat dan mudah dipecahkan dalam hitungan detik.
- Aa123456 – Digunakan sebanyak 1.411.847 kali. Meskipun memiliki huruf kapital, kombinasi ini masih terlalu sederhana dan mengikuti pola yang umum.
- 12345 – Digunakan sebanyak 1.301.052 kali. Sama seperti ‘1234’, sangat rentan terhadap serangan brute force.
- password – Digunakan sebanyak 1.082.010 kali. Ironisnya, kata ‘password’ itu sendiri masih menjadi pilihan yang populer.
- 123 – Digunakan sebanyak 959.741 kali. Singkat, sederhana, dan sangat berbahaya.
- 1234567890 – Digunakan sebanyak 674.200 kali. Pola angka berurutan yang diperpanjang, tidak ada bedanya dengan ‘123456’.

Analisis lebih lanjut dari Comparitech mengungkapkan bahwa 25% dari 1.000 password teratas hanya berisi angka sederhana, dan 38,6% di antaranya menggunakan pola
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Password ‘123456’ masih menjadi yang terpopuler dan paling mudah diretas karena kombinasi angka berurutan ini sangat sederhana dan intuitif. Pengguna memilihnya karena kemudahan mengingat, namun hal ini menjadi target empuk bagi peretas yang menggunakan serangan brute force atau kamus. Kurangnya kesadaran akan risiko dan kecenderungan manusia untuk mencari kenyamanan berkontribusi pada fenomena ‘kemalasan digital’ ini.
Untuk membuat password yang kuat dan aman, Anda harus menggabungkan huruf kapital dan huruf kecil, angka, serta simbol. Idealnya, panjang password minimal 12 karakter. Hindari menggunakan informasi pribadi, pola keyboard, atau kata-kata umum. Pertimbangkan untuk menggunakan frasa unik yang mudah diingat tetapi sulit ditebak, seperti ‘Saya@Suka#Makan!Rendang2025’. Selain itu, gunakan password yang berbeda untuk setiap akun Anda.
Penggunaan autentikasi dua faktor (2FA) sangat penting karena menambahkan lapisan keamanan ekstra yang signifikan pada akun Anda. Bahkan jika peretas berhasil mendapatkan password Anda, mereka tetap tidak akan bisa masuk tanpa akses ke faktor kedua (misalnya, kode dari aplikasi autentikator, SMS, atau sidik jari). Ini adalah benteng pertahanan krusial yang melindungi akun Anda dari ancaman kebocoran password.
Kesimpulan
Fenomena password paling mudah diretas yang terus merajalela di tahun 2025 adalah pengingat keras bagi kita semua. Meskipun teknologi keamanan siber terus berinovasi, ancaman nyata seringkali berasal dari kelalaian atau ‘kemalasan digital’ yang masih marak. Laporan Comparitech dengan jelas menunjukkan bahwa jutaan akun masih berisiko tinggi karena penggunaan kata sandi yang sangat prediktif dan mudah dipecahkan. Pemahaman tentang daftar password rentan ini, diiringi dengan pengetahuan tentang modus operandi peretas, adalah langkah pertama dalam membangun pertahanan digital yang kokoh.
Artikel ini telah membahas secara komprehensif mulai dari psikologi di balik pilihan password lemah, daftar kombinasi yang paling rentan, hingga panduan praktis untuk menciptakan password yang kuat dan unik. Kita juga mendalami pentingnya peran password manager sebagai solusi cerdas, serta keharusan mengaktifkan autentikasi dua faktor sebagai lapisan keamanan esktra yang tak tergantikan. Ingatlah, keamanan digital adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan kombinasi antara kesadaran diri, tindakan proaktif, dan pemanfaatan teknologi yang tepat. Jangan biarkan kenyamanan sesaat menempatkan privasi dan data sensitif Anda dalam bahaya. Saatnya untuk mengubah kebiasaan lama dan mengadopsi praktik keamanan siber yang lebih tangguh.
Lindungi diri Anda dari ancaman peretasan yang terus berkembang. Mulai periksa dan perbarui semua kata sandi Anda hari ini, gunakan password manager, dan aktifkan 2FA. Keamanan digital adalah investasi jangka panjang untuk ketenangan pikiran Anda. Jadikan langkah-langkah ini bagian tak terpisahkan dari gaya hidup digital Anda!
