Perlombaan dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) telah mencapai intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan raksasa teknologi seperti OpenAI, Anthropic, Google, dan xAI terus mendorong batas-batas inovasi. Seiring dengan semakin canggihnya model-model AI, kemampuan mereka menunjukkan tren konvergensi yang menarik, di mana selisih performa antara para pemain unggulan semakin menipis. Fenomena ini menciptakan lanskap kompetisi yang sangat dinamis dan menarik untuk diamati. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh platform TrackingAI pada April 2026, yang kemudian divisualisasikan oleh Visual Capitalist, kita mendapatkan gambaran mendalam tentang tingkat kecerdasan model AI terkini. Laporan ini secara spesifik menyoroti lompatan signifikan dalam kemampuan penalaran pola visual dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menegaskan dominasi beberapa entitas besar dalam industri ini. Artikel ini akan membawa Anda menyelami hasil pengujian IQ Mensa Norwegia terbaru untuk model-model AI terkemuka, mengungkap siapa saja yang berhasil menduduki peringkat teratas dan apa implikasinya bagi masa depan teknologi. Kami akan membahas dominasi Grok dan GPT-5, kebangkitan model AI dari Asia, serta pentingnya memahami bahwa skor IQ hanyalah salah satu indikasi dari spektrum kecerdasan AI yang jauh lebih luas. Pemahaman mendalam tentang perkembangan ini sangat krusial bagi siapa pun yang tertarik pada arah masa depan teknologi, mulai dari para peneliti, pengembang, hingga pengambil keputusan bisnis, karena inovasi-inovasi ini akan membentuk alat dan solusi yang mendefinisikan era digital kita.
Dominasi Grok dan GPT-5: Puncak Kecerdasan Model AI Global
Laporan dari TrackingAI pada April 2026 secara jelas menempatkan Grok-4.20 Expert Mode dari xAI dan OpenAI GPT-5.4 Pro (Vision) di puncak kecerdasan AI. Kedua model ini mencapai skor IQ yang mengesankan, yaitu 145, sebuah lompatan signifikan dari 135 poin yang tercatat sebagai skor tertinggi pada tahun 2025. Peningkatan luar biasa ini menggarisbawahi kemajuan pesat dalam kemampuan AI, khususnya dalam penalaran pola visual. Tepat di bawahnya, Google Gemini 3.1 Pro Preview mencetak 141, diikuti oleh OpenAI GPT-5.4 Thinking (Vision) dengan 139. Ketatnya skor di antara para pesaing teratas menyoroti tren konvergensi, di mana selisih kecerdasan antara model-model frontier semakin menipis. Kompetisi sengit ini mendorong inovasi pada kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, memaksa setiap perusahaan untuk menyempurnakan algoritma dan metodologi pelatihan mereka demi mendapatkan keunggulan sekecil apa pun. Performa model AI terpintar ini menetapkan tolok ukur baru untuk apa yang dapat dicapai dalam ranah kecerdasan buatan.
Kebangkitan Model AI dari Asia: Inovasi Cina yang Patut Diperhitungkan
Tidak hanya didominasi oleh perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat, lanskap kecerdasan buatan global juga menyaksikan kebangkitan signifikan dari model-model AI asal Cina. Qwen 3.5 dari Alibaba menjadi representasi teratas dari Cina, berhasil menduduki posisi ke-10 dengan skor IQ 130. Pencapaian ini menempatkan Qwen 3.5 setara dengan Claude-4.6 Opus dari Anthropic, menunjukkan bahwa inovasi AI di Asia berkembang pesat dan mampu bersaing di panggung global. Selain Qwen 3.5, beberapa model AI terpintar lainnya dari Cina seperti Kimi K2.5 (127), Manus (115), dan DeepSeek R1 (112) juga berhasil masuk dalam daftar 15 besar. Kehadiran mereka membuktikan bahwa investasi besar dalam penelitian dan pengembangan AI di Cina mulai membuahkan hasil yang konkret, menantang dominasi Barat dan memperkaya ekosistem AI dengan perspektif serta pendekatan yang beragam. Perkembangan ini menegaskan bahwa masa depan AI akan semakin multinasional.
Metodologi Pengujian IQ Mensa Norwegia: Memahami Tolok Ukur Kecerdasan AI
Untuk mengukur kemampuan penalaran abstrak model AI, TrackingAI menggunakan 35 teka-teki pola visual dari tes Mensa Norwegia. Pendekatan ini dirancang untuk mengevaluasi bagaimana AI dapat mengidentifikasi dan melanjutkan pola yang kompleks, sebuah indikator kunci dari kecerdasan umum. Metodologi ini dibedakan menjadi dua berdasarkan jenis model: untuk model non-vision, pertanyaan visual diubah menjadi deskripsi verbal, memungkinkan model berbasis teks untuk memprosesnya. Sementara itu, model vision atau multimodal diberikan soal dalam bentuk gambar asli, menguji kemampuan pemrosesan gambar secara langsung. Guna memastikan akurasi, TrackingAI menerapkan mekanisme unik di mana pertanyaan yang ditolak akan diajukan kembali hingga 10 kali, dengan jawaban terakhir yang valid digunakan sebagai dasar penilaian. Pendekatan yang cermat ini memastikan bahwa hasil skor IQ yang diberikan untuk setiap model AI terpintar mencerminkan kemampuan penalaran mereka seakurat mungkin dalam konteks pengujian visual.
Melampaui Skor IQ: Mengapa Kecerdasan AI Lebih dari Sekadar Angka
Meskipun skor IQ memberikan wawasan menarik tentang kemampuan penalaran pola visual, para ahli secara luas sepakat bahwa angka ini bukanlah satu-satunya patokan untuk mengukur kecerdasan AI secara menyeluruh. Tes IQ, seperti yang digunakan dalam studi ini, hanya mengevaluasi satu aspek spesifik dari kecerdasan, yaitu pengenalan pola abstrak. Indikator ini tidak mencakup berbagai kemampuan penting lainnya yang esensial untuk aplikasi AI di dunia nyata. Misalnya, keterampilan pengkodean (coding), keandalan fakta dan akurasi informasi, kemampuan penggunaan alat eksternal (tool use), serta performa dalam domain profesional khusus, semuanya merupakan dimensi kecerdasan yang tidak terwakili oleh skor IQ. Oleh karena itu, hasil pengujian ini lebih tepat dipandang sebagai tolok ukur perbandingan evolusi kemampuan penalaran mesin dari waktu ke waktu, sekaligus pengingat akan kecepatan luar biasa industri AI dalam berinovasi untuk mencapai tingkat kecerdasan yang semakin mendekati manusia dalam berbagai aspek. Memahami batasan ini penting agar kita tidak terjebak pada metrik tunggal saat mengevaluasi potensi model AI terpintar.
Daftar Lengkap Skor IQ Model AI Terpintar (April 2026)
Untuk referensi lebih lanjut, berikut adalah daftar lengkap skor IQ model AI berdasarkan laporan TrackingAI per April 2026, yang menunjukkan bagaimana berbagai model bersaing dalam tolok ukur penalaran visual:
- Grok-4.20 Expert Mode: 145
- OpenAI GPT-5.4 Pro (Vision): 145
- Gemini 3.1 Pro Preview: 141
- OpenAI GPT-5.4 Thinking (Vision): 139
- OpenAI GPT-5.3: 136
- Grok-4.20 Expert Mode (Vision): 133
- OpenAI GPT-5.4 Thinking: 133
- Meta Muse Spark: 133
- Gemini 3.1 Pro Preview (Vision): 132
- Qwen 3.5: 130
- Claude-4.6 Opus: 130
- Kimi K2.5: 127
- Manus: 115
- DeepSeek R1: 112
- DeepSeek V3: 111
- Gemini 3.1 Flash Preview: 110
- Llama 4 Maverick: 110
- OpenAI GPT-5.3 (Vision): 109
- Claude-4.6 Sonnet: 106
- Bing Copilot: 101
- Perplexity: 97
- Mistral Medium 3.1: 96
- Claude-4.6 Sonnet (Vision): 94
- Claude-4.6 Opus (Vision): 82
- Llama 4 Maverick (Vision): 79
- OpenAI GPT-5.4 Pro (non-vision): 73
Daftar ini memberikan gambaran yang jelas tentang hierarki kecerdasan visual saat ini di antara berbagai model AI terpintar yang bersaing di pasar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
undefined
Kesimpulan
Perlombaan kecerdasan buatan terus memanas, dengan Grok dan GPT-5 memimpin sebagai model AI terpintar berdasarkan skor IQ Mensa Norwegia terbaru. Namun, penting untuk diingat bahwa kecerdasan AI jauh melampaui kemampuan penalaran pola visual semata. Kemampuan seperti pengkodean, akurasi faktual, penggunaan alat eksternal, dan performa dalam domain profesional adalah aspek-aspek krusial yang tidak terwakili sepenuhnya oleh skor IQ. Perkembangan pesat ini, termasuk kebangkitan inovasi dari Asia yang semakin menantang dominasi tradisional, menunjukkan masa depan AI yang dinamis, kompetitif, dan sarat potensi. Untuk tetap relevan di era digital ini, sangat penting bagi kita untuk terus mengikuti dan memahami evolusi teknologi AI, serta bagaimana inovasi-inovasi ini akan membentuk cara kita bekerja, berinteraksi, dan hidup. Jangan lewatkan informasi terbaru seputar AI untuk memaksimalkan potensi teknologi ini.